Search This Blog

Loading...

Friday, May 17, 2013

CUCAK RAWA (PYCNONOTUS ZEYLANICUS)

Burung Cucak Rawa
Burung cucak rowo berasal dari Asia Tenggara. Daerah penyebarannya berada di dataran rendah dan perbukitan di semenanjung Malaya, Sumatera, Kalimantan, dan jawa bagian barat. Di Jawa Barat cucak rawa terdapat sampi pada ketinggian 1.000 mdpl. Namun saat ini sudah sangat jarang ditemui dan hampir tidak pernak bertemu.

Cucak rawa adalah sejenis burung berkicau Famili Pycnonotidae. Burung ini juga dikenal dengan sebutan cucakrowo (bahasa jawa), cangkurawah (bahasa Sunda), Barau-barau (Melayu), Bebarau (Muara-Enim, Sumatera Selata) dan dalam bahasa inggris disebut dengan Strawheaded Bulbul. Warna kepalanya lebih mengacu kepada warna kuning seperti jerami.
Ada pendapat mengatakan bahwa cucak rawa yang bagus adalah yang berasal dari Kalimantan, badannya kecil namun memiliki suara yang lantang dan nyaring. Jenis lain adalah yang berasal dari Medan, Lampung dan Palembang (Muara Enim, Lahat dan Batu Raja). Tubuhnya lebih besar serta suara yang Bas. Jika ingin dibawa ke kontes burung kicau hendaknya dipilih cucakrawa yang bertubuh besar dan bersuara ganda (ngeropel). Suara yang ngeropel biasa akan mempengaruhi penilaian para juri.

Sesuai dengan namanya, kalau burung cucak rawa sering dijumpai di rawa-rawa, di sekitar sungai, atau di tepi-tepi hutan. Burung ini sangat suka dan sering bersembunyi di balik dedaunan dan memperdengarkan suaranya yang sangat khas.

Burung ini sangat gemar sekali mandi dan berjemur di bawah sinar matahari sembari berkicau dengan riang sambil bertengger diatas ranting yang menjorok ke arah sungai. Setelah puas, mereka akan terbang berpasangan mencari makan. Mereka lebih sering berkelompok, terutama pada sore hari saat menjelang matahari tenggelam.

Di habitat atau alamnya, burung cucak rawa sangat gemar memakan aneka serangga, siput air dan berbagai buah-buahan yang lunak seperti buah jenis beringin. Menjelang musim hujan atau sekitar bulan Juli sampai dengan bulan September, musim kawin burung cucak rawa tiba, pasangan yang telah dewasa akan membuat sarang secara bersama-sama. 

Burung ini biasanya membuat sarang pada pucuk ranting yang tinggi atau ranting yang kering, hal ini dilakukan untuk menghindari baik musuh alami maupun gangguan manusia. Sarang berbentuk seperti mangkok dan terbuat dari ranting-ranting kecil dan dedaunan yang kering. Telur burung cucak rawa biasanya berjumlah 2-4 butir. Telur tersebut akan dierami secara bergantian oleh induknya selama waktu kurang lebih dua minggu. Dan setelah menetas secar bergantian pula induknya menyuapi anaknya. Setelah berumur tiga bulan barulah induknya akan mengajak anaknya keluar sarang untuk belajar terbang agar dapat mencari makanan sendiri nantinya.

Burung Cucak Rawa
 Ciri Fisik Burung Cucak Rawa

Secara fisik burung cucak rawa dicirikan dengan mahkota yang terdapat di bagian kepala (sisi atas kepala) dan penutup telinga berwarna jingga atau kuning jerami. Bagian leher berwarna putih; sedang bagian sayap dan ekornya berwarna cokelat kehijauan. Ciri lain burung ini memiliki iris mata berwarna merah. Pada matanya juga terdapat kekang berwarna hitam. Paruhnya berwarna hitam, tetapi bagian pangkalnya yang dekat dengan mata berwarna putih. Sementara kakinya berwarna cokelat.
Burung ini memiliki ukuran tubuh yang sedang. Panjang tubuhnya sekitar 28 cm (diukur dari ujung paruh hingga ujung ekor). Tetapi jika kita dengar dari suaranya, cucak rawa tergolong memiliki suara yang keras, jelas dan tebal. Suara kicauannya berbunyi naik turun bertalun sembarangan. Akan tetapi suara tersebut adalah suara yang baku, baik ketika sedang bersahutan maupun koor. Selain dari ciri-ciri fisik tersebut, burung ini juga mempunyai ciri khusus untuk membedakan jenis kelamin antara burung jantan dan yang betina. 

Perbedaan burung jantan dan betina adalah:

Burung jantan
  • Paruh agak panjang, besar, dan agak melengkung.
  • Ukuran kepala lebih besar dengan bulu surai lebih tebal.
  • Bentuk kepala agak bulat dan bulu dibagian hidung lebih naik (menonjol).
  • Bulu dagu berwarna putih.
  • Bulu-bulu dibagian pantat atau kaki lebih lebat.
  • Postur tubuh relatif lebih besar dengan dada yang lebih bidang.
  • Bercak-bercak warna bulu dibagian dada polanya besar-besar serta kurang terang atau jelas.
  • Bulu ekornya relatif lebih panjang.
  • Suaranya tidak melengking.


Burung betina
  • Paruhnya agak pendek, lebih kecil, dan lurus.
  • Ukuran kepalanya lebih kecil dan bulu surainya lebih lebat.
  • Bentuk kepala agak pipih dan bulu di depan bagian hidung tidak menonjol tetapi menaik dibagian belakang.
  • Bulu dagu berwarna abu-abu.
  • Bulu-bulu dibagian pantat kurang lebat.
  • Badan relatif lebih kecil derta dadanya tidak lebar.
  • Bercak-bercak warna bulu di dada polanya kecil-kecil dan warna hitam putihnya cukup jelas.
  • Ekornya lebih pendek.
  • Suaranya agak melengking dan kadang-kadang terdengar suara meliuk.

Selain dapat dikenali secar fisik, cucak rawa juga dapat dibagi berdasarkan daerah penyebarannya. Berdasarkan hal tersebut dikenal beberapa jenis cucak rawa, yaitu: cucak rawa Medan, cucak rawa Palembang (Muara Enim, Lahat, Batu Raja), cucak rawa Bengkulu, cucak rawa Lampung, cucak rawa Jawa Barat, cucak rawa Kalimantan, dan cucak rawa Malaysia.

Cucak rawa Medan dikenal yang paling baik diantara cucak rawa lainnya. Ini dapat dilihat dari ukuran tubuhnya yang lebih besar dari pada cucak rawa pada umumnya; suaranya yang keras, nyaring, dan merdu; serta gerakannya yang lincah dan memikat.


Memilih cucak rawa bakalan yang baik

Secara umum, baik dari muda hutan maupun anakan hasil dari penangkaran, sama saja untuk pemilihan bakalan, keduanya masih cukup sering dijumpai dipasaran. Namun unntuk burung cucak rawa yang muda hutan cukup sulit untuk dijinakkan, tetapi untuk suaranya lebih memiliki suara yang khas asli dibawa dari habitatnya. Sementara untuk yang dari hasil penangkaran dan masih piyik lebih gampang dijinakkan. Namun tidak memiliki suara yang khas jika tidak dilakukan pemasteran dengan baik. Bakalan yang baik adalah bakalan yang muda hutan dengan harapan akan mendapatkan kualitas suara yang bagus dengan memiliki kecendrungan suara kicauan yang baik.
Dasar pemilihan bakalan yang baik memang masih terdapat beberapa perbedaan/perselisihan silang pendapat (polemik). Banyak para kicau mania mengatakan bahwa cucak rawa dari medan adalah cucak rawa yang bagus. Namun asal-muasalnya pada kenyataannya tidak berpengaruh pada kualitas burung, kualitas burung lebih ditentukan dari kualitas bakalannya.
Ciri fisik dapat dijadikan salah satu patokan dalam memilih cucak rawa bakalan. Akan tetapi tidak mutlak karena harus ada burung pembandingnya. Namun yang menjadi hal masalah adalah pembandingnya yang “super” disaat kita memilih bakalan...???.

Berdasarkan pengalaman dari beberapa kicau mania, yakni mengatakan ciri-ciri gambaran cucak rawa yang bagus adalah sebagai berikut:
  1. Bentuk kepala agak bulat dan besar serta dahi yang menonjol.
  2. Bentuk paruh yang besar, panjang, dan kuat.
  3. Lubang hidung tidak lebar dan terlihat kecil karena tertutup bulu hidung.
  4. Leher panjang dan pangkal leher agak mengembang.
  5. Memiliki dada yang bidang dan punggung agak bongkok.
  6. Tulang paha kiri dan kanan agak merapat.
  7. Jari kaki kuat dan rapat dan cengkramannya terlihat sempurna.
  8. Badan berukuran besar dan panjang.
  9. Bulu sayap panjang, bulu dadanya terlihat mengkilap dan tampak lembut.
  10. Bulu ekornya panjang dan mengumpul, makin ke ujung semakin mengecil.
  11. Usahakan mencari cucak rawa yang suara ocehannya tebal atau berbunyi seperti treretek-treretek.


Perawatan burung cucak rawa

Perlengkapan yang diperlukan

  •      Sangkar
Burung cucak rawa biasa menggunakan sangkar yang berukuran 45 x 45 x 75 cm atau dapat disesuaikan dengan ukuran badan burung. Sebaiknya kita tidak menggunakan sangkar yang baru, karena ini dapat mengakibatkan paruh dan kepala menjadi luka jika kia memakai sangkar yang baru.
  •       Tenggeran
Untuk tenggeran atau tangkringan, biasanya di dalam sangkar burung cucak rawa diberikan dua buah tangkringan dengan posisi sejajar bersebelahan atas bawah dengan tidak menggangu keleluasaan bergerak dan melompat. Ukuran tangkringan berdiameter 2 cm dengan bahan yang terbuat dari kayu asam dan panjangnya disesuaikan dengan ukuran sangkar.
  •      Kerodong
Burung perlu diistirahatkan dengan menggunakan kerodong dan dapat juga dengan ditempatkan diruangan yang tenang. Kerodong sangat penting bagi burung cucak rawa. Karena selain dari untuk menjaga dari suhu udara yang dingin, burung ini jika seddang bersemangat berkicau terkadang sering tidak mengenal lelah apalagi jika mendengar suara kicauan burung lain, dan jika dibiarkan berkicau terus-menerus hal ini dapat merusak pita suara pada burung.


Pakan untuk burung cucak rawa
Burung cucak rawa di habitatnya biasa memakan hampir segala jenis buah-buahan. Akan tetapi yang paling digemari burung ini adalah buah ara, buah arberi, serta biji-bijian kecil. Cucak rawa juga gemar memakan siput sungai, kumbang kecil, serta lebah pengerek ini untuk memenuhi kecukupan protein hewani. Cucak rawa juga memakan jangkrik, telor semut merah (kroto), rayap, belalang, dan cacing tanah.

Burung cucak rawa hasil tangkapan dari alam harus diubah pola dan menu makannya. Hal ini untuk memudahkan peternak. Perubahan menu makanan juga jangan sampai mengabaikan kesehatan burung. Setelah dipelihara cucak rawa biasanya diberikan pisang kepok putih dan pepaya sebagai makanan pokoknya. Untuk tetap memenuhi kebutuhan proteinnya juga diberikan kroto dan jangkrik. Selain itu juga diberikan pakan tambahan berupa voer (pakan buatan).

Untuk melancarkan pencernaan terkadang para kicau mania juga ada yang memberikan pasir, kerikil, atau sejenis pecahan kerang dan batu padas. Jika kita ingin menangkarkan hal ini semua harus ada dalam satu kandang.




Mandi dan jemur
Cucak rawa adalah burung yang gemar mandi. Untuk yang telah terbiasa burung dapat dimandikan dengan menggunakan tempat khusus memandikan burung (keramba). Di tempat mandi ini, burung biasa menyejukkan diri hingga 2 – 3 jam. Burung cukup dimandikan sekali sehari. Kemudian burung perlu dijemur.  Untuk cucak rawa penjemuran tidak perlu dilakukan terlalu lama, burung cukup diletakkan ditempat yang relatif panas, misalnya digantung dibawah atap seng dari pukul 09:00 – 12:00, ini dimaksudkan untuk memperpanjang dan mengutkan nafas burung.

Umumnya cucak rawa cukup dijemur sehari satu kali. Sedangkan untuk sore harinya burung cukup diangin-anginkan saja. Selesai dilakukan penjemuran burung diangin-anginkan satu jam. Kemudian burung dikerodong dan diletakkan ditempat yang teduh. Jika ingin dibawa ke arena lomba sebaiknya penjemuran dan pemanasan seperti ini dihentikan dua hari sebelum kontes. Burung cukup dijemur pada pagi hari. Kemudian diangin-anginkan dan burung dikerodong. Tujuannya, agar burung tidak terlalu rajin berkicau sehingga akan mengurangi tenaga dan stamina jika akan dipersiapkan untuk lomba, jadi tenaga tidak akan terbuang sia-sia.


Masa mabung
Penangan masa mabung untuk burung cucak rawa relatif sama seperti burung kicau jenis lain. Burung ini juga membutuhkan banyak istirahat, dan harus di kerodong. Kerodon dibuka ketika akan diberi makan. Masa mabung burung cucak rawa hampir mirip dengan burung murai batu dan anis merah. Biasanya menghabiskan waktu sekitar dua bulan untuk pulih kembali.

Dalam masa mabung, ketika burung hendak dimandikan burung cukup disemprot saja dengan sprayer. Sedangkan untuk penjemuran burung cukup diangin-anginkan saja diruang terbuka dan tempat yang teduh pada pagi dan sore hari. Agar kondisi burung tetap terjaga jangan lupa tetap untuk memberikan asupan vitamin dan makanan tambahan.


Pemasteran
Prose pemasteran untuk burung cucak rawa dapat dilakukan menggunakan HP, CD, DVD, atau menggunakan burung master lain seperti burung trucukan atau berbah dan burung tledekan. Trucukan yang memiliki suara ganda banyak digemari oleh para kicau mania (hobi burung kicau). Untuk melatih mental supaya tidak terlalu liar dan giras, sangkar burung dapat di gantungkan ditempat yang tidak terlalu tinggi dan relatif ramai untuk orang sering lalu lalang.


Burung harus tetap dijaga kondisinya agar tetap rajin berkicau, berikut adalah cara yang dapat kita lakukan agar burung tetap rajin berkicau:
  • Burung kita pastikan dalam kondisi yang sehat dan prima. Hal ini dapat dilihat dari tingkah laku burung serta kotorannya. Jika burung tidak tampak seperti biasanya, seperti burung tidak mau makan, lesu, gelisah, sebaiknya proses pemasteran dihentikan. Begitu juga jika kotoran burung terlihat cairi danpucat.
  • Burung dimandikan sesuai jadwalnya.
  • Penjemuran burung sebaiknya dilakukan mulai dari pukul 07:00 – 09:00 pagi hari, karena sinar matahari pagi sangat baik bagi burung, hal ini dapat mencegah burung terkena kutu dan juga merangsang otot-otot burung karena akan sering bergerak sambil di jemur.
  • Burung harus selalu diberikan extra fooding sesaui dengan pola kebiasaannya. Seperti jangkrik dan kroto diberikan 3 - 4 ekor pada pagi dan sore hari. Extra foding yang berlebihan juga tidak baik untuk burung karena biasanya dapat membuat burung menjadi terlalu birahi.
  • Kita dapat menambahkan mineral baik berupa cairan atau serbuk pada air minum, dan ini harus diganti setiap hari.
  • Untuk merangsang agar burung tetap rajin berkicau, kita dapat mencarikan pasangannya. Pasangan dapat berupa jantan atau betina, namun, jangan mencarikan pasangan yang umurnya sudah terlaulu tua atau sudah jadi. Jika pasangannya burung yang sudah jadi dapat mengakibatkan mental burung kita menjadi kalah atau rusak.